Gara - Gara Viagra
Seorang wanita setengah baya, mengunjungi dokter, "Dok," katanya,
"anunya suami saya payah, tidak bisa 'ereksi' sama sekali." Dokter balik
bertanya, "Sudahkah anda mencoba 'Viagra'?
"Oh..belum, pasalnya suami saya melolak dan ia bilang ia tidak usah
minum apapun masih bisa, tapi, Dok, saya benar-benar membutuhkan yang
satu itu", kata wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu saya berikan anda sebotol pil ini. Agar suami
anda tidak tahu, masukan satu pil ini pada kopi atau makanan, pada saat
makan, dan tunggu saja, apa yang terjadi." kata dokter. Beberapa hari
berselang, wanita itu datang lagi dan berteriak.
"Dok, saya kembalikan barang berbahaya ini." katanya sambil melemparkan botol Viagra.
"Loh... kenapa? saya pikir ini yang anda butuhkan." kata dokter.
"Yah... tentu saja saya membutuhkan hubungan intim, tetapi, pil ini
sudah saya letakkan dikopinya, setelah diminum 15 menit kemudian, ia
langsung menelantangkan saya dimeja makan, lalu melepaskan pakaianku dan
memcumbuiku berkali-kali."
"Nah, kalau begitu kan bagus. " timpal dokter.
"Apa yang salah?"
"Masalahnya piring, gelas dan makanan yang diatas meja semuanya
berterbangan hingga pecah, petugas restoran menahan kami, dan menyerah
kami pada yang berwajib"
Sondag 10 Maart 2013
CINTA PADA SEBUAH MIMPI
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku
Di duka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku
Meski ku tak rela
Andre masih termenung dengan beribu pikiran yang tidak menentu. Galau
menghinggapinya. Ia menyadari benar kenapa ini terjadi dan menimpa
dirinya. Ia tidak tau kenapa sampai terjadi cinta yang seperti ini.
Cinta yang sudah lama menghinggapinya kini kandas. Benar kata orang
bahwa terkadang, kita tak akan pernah bisa merasakan indahnya dicintai dengan tulus, jika kita tak pernah disakiti. Palagi saat Naff mengalunkan lagunya yang begitu mengena di hati.
Hingga saat ini pun Andre tidak tau harus bagaimana lagi. Begitu indah
sekaligus begitu menyakitkan. Tidak pernah diduga sebelumnya. Hatinya
telah terbagi dua.
“Tiara,” Andre berguman sambil memandangi foto Tiara.
“Apakah pantas aku mendampingimu? Kemana perginya kamu, Tiara? Tidak
sudikah kau temui lagi sosok Andre seperti yang dulu, seperti pertama
kali kita bersendau gurau, melepas tawa kita masing-masing?” Andre terus
memandangi foto Tiara. Foto saat Tiara begitu manjanya sambil memegang
batang Flamboyan minta difoto lewat kamera handphone Andre. Ah,
begitu cantik. Andre tersenyum. Ya, lebih baik tersenyum karena kadang
seseorang lebih memilih tersenyum hanya karena tak ingin menjelaskan
mengapa ia bersedih.
Memang sudah terlalu lama Tiara mengisi kehidupan Andre. Mengisi
hari-hari dimana Andre merasa kosong pada saat itu mungkin hingga saat
ini. Tapi mengapa disaat seperti ini disaat Andre mulai mengenal sosok
cewek yang begitu super justru malah Retna muncul ? Ah memang sulit
untuk mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang kita cintai, tapi
lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak mau hilang begitu saja.
“Retna, bersediakah kamu menggantikan Tiara?” batin Andre
tiba-tiba terusik oleh bayang-bayang Retna di benaknya. Terus
bergejolak. Bertanya-tanya. Mencari tau kemana hatinya kini ingin
berlabuh. “Mengapa begitu sulit menghilangkan jejakmu Tiara. Malah
semakin melekat disaat Retna hadir untuk mengisi kekosongan hatiku”
Lamunan Andre buyar ketika handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk. Dilihatnya darimana panggilan masuk itu.
“Retna..” Andre cepat-cepat menjawab panggilan dari seberang sana. “Hallo, ada apa Retna?”
“Ndre, kamu ada dimana?”
“Di rumah. Ada apa Ret?” suara Andre menyelidik
“Boleh aku meminta sesuatu padamu, Ndre?” pinta Retna dari seberang sana.
“Apa itu?” jawab Andre sedikit penasaran
“Temani aku ke Toko Buku ya? Harus mau, Ndre. Soalnya aku harus mendapatkan sebuah buku yang begitu penting banget”
“Kok maksa sih…?” aku mencoba mengelak
“Iya harus maksa. Pokoknya aku jemput sebentar lagi. Kamu
siap-siap ya Ndre. Pokoknya mau ga mau harus mau. Oke sebentar lagi
kujemput…”
“Ta…tapi Ret….”
Sudah terputus hubungan telponnya. Tinggal Andre yang
kelabakan harus berbenah diri cepat-cepat. Soalnya Andre baru bangun
tidur. “Ayo tersenyumlah, Ndre dalam mengawali hari, karena itu
menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!”
begitu batin Andre menghibur diri di depan cermin.
Mereka berjalan bergandengan. Sepanjang perjalanan jemari
Retna tak lepas begitu erat menggenggam tangan Andre. Tiba-tiba darah
Andre berdesir hebat. Mengalir ke segala penjuru hingga sampai ke
otaknya. Mulai panas. Matanya mulai sedikit berkunang-kunang. Lamunannya
menerawang jauh hingga Retna mencubit pipinya. Andre tersadar…
“Auwww…sakit Ret…!”
“Digandeng cewek cantik malah melamun, bukannya malah
senang. Tuh semua cowok pada mencuri pandang kearah aku. Kamu gak
cemburu?” Retna begitu percaya diri berada di samping Andre.
“Maaf, Ret. Aku terlalu bahagia berjalan bergandengan bersama kamu” kata Andre membesarkan hati Retna.
“Sungguh?”
“Iya, sungguh. Makanya tadi aku melamun”
“Hmm….aku tersanjung, Ndre. Aku nyaman berada di samping
kamu, Ndre” disandarkannya kepala Retna di lengan Andre. Retna
tersenyum. Ada gurat bahagia di wajah Retna. Gambaran cinta telah
meronai wajah Retna. Dan semakin eratlah pegangan tangan Retna ke lengan
Andre.
“Andre…” tiba-tiba suara Retna menyapa Andre.
“Iya, ada apa Retna?” Andre memandangi wajah Retna. Wajah
yang begitu cantik, polos terpancar binar cinta. Ah, Retna apakah benar
kamu pengganti cintaku yang hilang? Apakah benar kamu cewek super
pengganti Tiara?
“Apakah cintaku gak bertepuk sebelah tangan?” pertanyaan Retna langsung ke lubuk hati Andre yang paling dalam.
“Apakah kamu merasa bertepuk sebelah tangan?” Andre malah
balik bertanya. Retna balas memandang wajah Andre. Mencari tau mungkin
ada jawaban yang membahagiakan hati Retna.
Andre tersenyum. Dibelainya rambut Retna dengan penuh kasih
sayang. Diusapnya air mata yang akan menetes dari sudut mata Retna.
“Dicintai dan disayangi kamu adalah anugerah terindah yang
Tuhan berikan padaku” Andre memberanikan diri untuk mengucapkannya.
“Dalam hati aku menanti, kuserahkan hati sebagai tanda
ketulusan cinta” jawab Retna dengan mata berkaca-kaca bahagia.
Andre terbuai dalam dekapan cinta Retna. Melupakan segala
kekusutan hati yang selama ini terbelenggu oleh cinta Tiara. Tiara yang
entah kemana perginya. Membawa separuh hati Andre. Separuh hidup Andre.
Separuh aku. Kata Noah dalam lagunya. Padahal Andre masih tidak percaya
kalau ia kini menjadi kekasih Retna. Retna dalam penilaian Andre kini
adalah cewek super yang telah begitu hebatnya menggeser bayang-bayang
Tiara. Menepis angan-angan bersama Tiara. Retnalah yang kini mengisi
cerita-cerita di dalam kehidupan Andre. Bait demi bait iramanya begitu
indah disenandungkan oleh hati. Ah, ini benar-benar sebuah cerita cinta.
Sebuah romansa yang bisa membuat Andre melupakan Tiara.
Pagi itu, Andre dikejutkan oleh suara panggilan dari Handphonenya. Andre cepat-cepat membukanya. Dari siapakah gerangan. Dilihatnya panggilan masuk di handphonenya.
“Tiara…” Andre setengah terpekik. Jantungnya lebih cepat
lagi berdetak. Hampir tak terkontrol. Ia coba menguasai dirinya.
“Halo….” Jawab Andre.
“Halo! Ini Andre…?” suara dari seberang sana.
“I..iyya….ini Ara….?” Suara Andre terbata.
“Iya…Andre…kamu dimana?”
“Di kamar, Ra. Kamu kemana aja, koq menghilang begitu aja?” Andre mulai memberanikan diri bertanya.
“Andre…maukah kamu menjemput aku di Bandara?”
“Iyyaa Tiara….jam berapa…?”
“Sekarang….! pokoknya aku tunggu sampai kamu datang…!”
Sebenarnya pikiran Andre berkecamuk. Terlintas wajah Retna manakala
Andre menyetujui pertemuannya dengan Tiara. Ada rasa bersalah dalam diri
Andre terhadap Retna. Sebuah pertemuan yang telah lama diimpikannya.
Wajah yang telah lama menghilang tiba-tiba akan muncul kembali. Tiara,
cewek super idam-idaman Andre. Cewek super yang telah pertama kali
menggores hati Andre. Ah, benar-benar Andre ada dipersimpangan. Entah
akan kemana hati Andre memilih jalan dipersimpangan itu.
“Ara….!” Panggil Andre setelah lama mencari-cari Tiara di Bandara.
“Andre….!” Balas Tiara.
Mereka saling berpelukan. Erat. Seolah tidak mau lepas. Kerinduan yang lama terpendam kini terbayar lunas.
“Ara, kamu semakin cantik” puji Andre setelah mereka duduk melepas lelah di lobby Bandara.
“Kamu juga semakin ganteng, Ndre” balas Tiara.
Kedua tangan
mereka tak lepas saling genggam. Sepanjang pertemuan itu mereka lebih
banyak diam. Lebih banyak hanya hati mereka yang saling bicara. Degup
jantung mereka semakin cepat berpacu. Semakin menambah kegugupan mereka.
Hanya saling bergenggaman tangan. Andre mencoba membelai rambut Tiara.
“Ara, apakah kamu selalu memikirkan aku disaat kamu jauh dari aku?” Andre mencoba membuka pembicaraan.
Tiara masih terdiam. Kemudian ia pandangi wajah Andre. Wajah
yang pernah menghiasai kehidupannya. Begitu indah semaraki hidup Tiara
kala itu.
“Sampai saat inipun aku gak pernah melupakan kamu, Ndre”
“Lalu kenapa kamu meninggalkan aku dan pergi begitu saja tanpa aku tau kemana perginya”
Tiara tidak langsung menjawab. Ia tertunduk. Mengalihkan
pandangannya dari wajah Andre. Banyak yang ingin ia ceritakan. Tapi
rasanya berat untuk menceritakan hal ini kepada Andre.
“Karena aku terlalu mencintaimu, Andre. Banyak mimpiku
tentang kamu. Mimpi tentang cinta. Dan pada akhirnya sekarang aku baru
merasa bahwa kamu adalah cintaku yang sejati” Dari lubuk hati Tiara, ia
ungkapkan perasaan itu kepada Andre.
Andre kini yang terdiam. Diam karena Andre merasakan beban
yang begitu berat. Cinta yang terkadang selalu memberikan solusi yang
sulit kita terima. Karena ketika jatuh cinta, jangan berjanji tak saling
menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan, meski salah satu
tersakiti.
“Ara, saat ini mungkin aku bukan lagi Andre yang seperti
dulu. Bukan lagi Andre yang bisa memberikan kenyamanan, memberikan
ketenangan dalam meraih mimpi-mimpi manismu” kata Andre memberanikan
diri sambil memandangi wajah Tiara.
“Tidak Andre. Kamu sempurna. Sempurna dalam hatiku. Dalam
cintaku. Kamu yang telah menciptakan mimpi-mimpi manis tentang cinta
dalam hidupku. Kamu yang telah banyak mengajarkan bagaimana cara meraih
mimpi-mimpi”
“Berhentilah mencari seseorang yang
sempurna untuk dicintai, lebih baik belajar dan persiapkan diri menjadi
seorang yang pantas untuk dicintai”
“Kamu
sudah tidak mencintai aku lagi, ya Ndre?” dekapan Tiara makin erat di
lengan Andre. Seolah tidak mau kehilangan. Andre kini semakin kacau.
Kemudian ia coba menenangkan Tiara dengan membelai rambut Tiara.
Mengusap air mata yang menetes di pipi Tiara.
“Bukan itu, Ara. Aku masih menyayangi kamu. Aku masih mencintaimu. Tapi aku tak bisa memilikimu”
Tiara bisa memahami arah pembicaraan
Andre. Tiara melepaskan dekapan Andre. Mencoba tegar dan menghapus air
matanya yang membasahi pipinya.
“Kalau boleh tau, siapa cewek yang telah berhasil menaklukkan hatimu, Ndre?” Tanya Tiara sambil mencoba tersenyum kepada Andre.
Andre memandangi wajah Tiara. Ia balas senyum Tiara. “Ara, meski
tak dicintai oleh seseorang yang kamu cinta, tak berarti kamu merasa
tak berarti. Hargai dirimu dan temukan seseorang yang tahu itu”
Tiara merenungi kata-kata Andre. Tiara
merasa Andre telah lebih dewasa kini. Andre benar-benar telah menjadi
guru yang terbaik dalam hidup Tiara. Guru yang telah mengajarkan
bagaimana caranya meraih mimpi-mimpi.
“Andre, jika kamu tulus
mencintanya, jangan pernah hiasi matanya dengan air mata, telinganya
dengan dusta, dan hatinya dengan luka” kata Tiara
“Ya, aku sangat mencintainya. Dialah Retna. Cewek super dalam kehidupanku. Aku tak bisa menghianatinya, Ara”
Tiara mencoba tersenyum. Mencoba berbesar hati. Ia pandangi wajah
Andre. ”Benar, Ndre karena orang yang pantas kamu tangisi tidak akan
membuatmu menangis, dan orang yang membuatmu menangis tidak pantas kamu
tangisi. Selama ini aku meninggalkan kamu karena aku ingin menguji
diriku kira-kira siapa cinta sejatiku kelak.”.
“Kamu pasti akan menemukan orang yang pantas mendampingimu”
“Terima kasih, Andre. Aku pasti akan sulit melupakan kamu”
“Cobalah, Ara. Karena satu pelajaran penting tentang patah
hati adalah jika dia mampu menemukan cinta yang baru, begitu juga
dirimu!”
“Iya, Ndre. Sekali lagi terima kasih karena pernah
mencintaiku. Salahku kenapa dulu aku tak mempedulikan mimpi-mimpimu.
Sekarang aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu”
“Kemana?”
“Aku akan kembali ke Australia melanjutkan studiku. Orang tuaku telah menaruh harapan pada diriku”
“Selamat jalan, Tiara”.
Tiara melepaskan dekapannya. Kemudian berjalan menjauhi
Andre. Tak sanggup Tiara memandang wajah Andre karena telah basah oleh
air mata. Entah bagaimana perasaan Tiara saat itu karena Andrepun hanya
mampu berdiri. Diam sambil memandang tubuh Tiara yang semakin menjauh.
“Selamat jalan Tiara, jangan terlalu lama menangisi yang
telah pergi, karena mungkin nanti kamu akan bersyukur telah meninggalkan
yang kamu tangisi saat ini” begitu doa Andre kepada Tiara.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu…
GALATO AND LOVE
Dia bagaikan sebuah pohon mati, tidak berbuah, tidak juga berdaun... tetapi dia terus hidup dan bertahan untuk waktu yang lama... Dia selalu diam, mematung tak berkutik... Ia tak pernah berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lambat, Ia hanya memperhatikannya... Ia tersenyum namun hatinya menangis... Ia tertawa namun penderitaan yang terdengar... Ia makhluk misterius yang memasuki kehidupanku, merubah segalanya menjadi rumit, dan juga indah...”
Dia bagaikan sebuah pohon mati, tidak berbuah, tidak juga berdaun... tetapi dia terus hidup dan bertahan untuk waktu yang lama... Dia selalu diam, mematung tak berkutik... Ia tak pernah berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lambat, Ia hanya memperhatikannya... Ia tersenyum namun hatinya menangis... Ia tertawa namun penderitaan yang terdengar... Ia makhluk misterius yang memasuki kehidupanku, merubah segalanya menjadi rumit, dan juga indah...”
Sudah berulang kali Chris membaca novel karya Rosaria Cianni yang berjudul “Qualcuno”
dan bagian itu adalah favoritnya. Walaupun novel tersebut merupakan
buku pertama yang dikeluarkan Rosaria pada tahun 2005, tetapi Chris
masih sangat menyukainya. Rosaria Cianni adalah penulis yang memberikan
inspirasi bagi hidup Chris. Setiap kalimat dalam novel yang
diterbitkannya selalu mengandung filosofi dan dapat membuat Chris
seolah-olah terhipnotis. Ia tidak pernah kelewatan untuk sekedar
meng-update info tentang penulis itu melalui fan page yang tersebar luas
di jejaring media sosial. Mulai dari novel pertama sampai yang terbaru,
Chris selalu mengikuti perkembangan ceritanya. Yang sedikit aneh dan
terasa ganjil hanyalah, Rosaria Cianni tidak pernah menulis profil
tentang dirinya di akhir halaman novelnya. Tidak ada sedikit info pun
tentang dia.
“hey
Chris! Pagi-pagi sudah membaca novel, lagipula kau kan sudah berulang
kali membacanya. Aneh sekali!” sahut Bianca mendekati Chris.
Chris
tidak terlalu memperdulikannya. Ia tetap fokus membaca novel pertama
karya Rosaria Cianni. “ada apa kau tiba-tiba datang ke kedaiku? Aku
tidak memberikan free gelato hari ini.”
Bianca
menghebuskan nafas kesal dengan kencang melalu hidung mancung nan
langsingnya. “Chris, kau jangan berburuk sangka dulu terhadapku! Aku
akan bayar kok, aku tidak meminta gelato-mu
secara cuma-cuma.” Ia berpindah tempat duduk, dari yang semula berada
di depan Chris, kini Bianca sudah berada di samping pria berambut coklat
terang itu.
Chris
menaruh novel penulis favoritnya di atas meja, wajahnya nampak kesal,
Ia berdiri dan tangannya bersidekap di depan dada. “Harus berapa kali
aku katakan kepadamu Bianca? Tidak ada tempat untukmu di hatiku.” Chris
menarik nafas dalam-dalam lalu ia berkata lagi. “kau mau pesan apa?”
tanyanya cuek.
Air
muka Bianca seketika berubah suram. Tanpa ragu-ragu Chris mengatakan
hal itu padanya. Apa Chris tidak sadar bahwa Ia baru saja melukai hati
Bianca? Tetapi Bianca berusaha terlihat tegar. Ia memberikan senyum
termanisnya kepada Chris. “Forest Berry Gelato per favore!” Chris menatap Bianca malas, kemudian Ia segera beranjak menyiapkan pesanan dari gadis yang sangat menyebalkan baginya.
Tiba-tiba bel pintu kedai “Gelato & Caffè” milik
Chris berbunyi. Ia berpikir keras, siapa orang yang akan memakan
hidangan beku di pagi hari selain Bianca? Ia memperhatikan orang itu...
seorang wanita dengan rambut hitam lurus panjang setengah pinggang,
memakai coat berwarna biru tua, serta syawl putih yang meliliti lehernya
tampak sedang mencari spot yang
nyaman untuk ditempati. Ia duduk, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.
Chris sedikit terpesona dengan wanita yang mempunyai wajah jelita
tersebut. Setelah selesai membuat Gelato Forest Berry pesanan Bianca dan mengantarkannya, Ia pun berjalan menuju wanita itu dan menyodorkan daftar menu sambil memberi salam.
“buongiorno.” Ucap Chris tersenyum.
“ah, buongiorno.” Wanita itu membalas sapaan Chris tanpa melihatnya. Ia sibuk menjelajahi macam-macam jenis Gelato di buku menu. “aku pesan Gelato Dark Chocolate dan Espresso Con Panna.”
Lagi-lagi wanita itu tidak menatap Chris! Chris sedikit sebal, bukan
karena tatapannya yang tak terbalas, tetapi wanita ini sedikit tidak
sopan dan berlagak angkuh.
“aspetta un momento signorina!” ujar Chris lalu berjalan ke arah counter sambil masih menggerutu di dalam hatinya. “Wanita cantik namun sangat sombong.” Pikirnya.
“Ho finito.” Bianca menyisakan gelato-nya yang tinggal sedikit. Ia membereskan barang-barang yang ada di atas meja kemudian menghampiri Chris yang sedang meracik Con Panna dan mencium pipi pria itu. Chris terdiam beberapa saat, menunggu amarahnya naik sampai ke ubun-ubun.
“Vattene!”
hardik Chris. Wajahnya memerah kesal. Tapi sayang, rupanya Bianca tidak
takut sedikit pun, ia malah meledek Chris dan menjulurkan lidahnya. “a presto il mio amore!”
Bianca tertawa geli kemudian berlari menyelamatkan diri dari Chris yang
sedang mengamuk. “D- dasar!” keluh Chris sembari membawa pesanan wanita
yang dipikirnya angkuh.
Chris menahan nampan di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya meletakkan gelato dan kopi
ke atas meja dengan hati-hati. “Selamat menikmati.” Kata Chris, kali
ini ia tidak menatap wanita itu lagi. Ia tau pasti ia akan diacuhkan.
“duduklah,
temani aku.” Chris hampir tak percaya. Ternyata dugaannya salah. Wanita
itu... tidak sesombong seperti yang ia kira. Chris menarik bangku yang
ada di depan wanita tersebut kemudian duduk dengan manis.
Wanita
itu terkekeh. “aku tidak mengira akan mendapat inspirasi di kedaimu.”
Ia memandang Chris sesaat lalu kembali berkutat dengan laptopnya.
Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan cepat, sesekali ia berhenti
untuk menyesap Con Panna dan menyicipi gelato-nya.
“che fai ?” tanya Chris penasaran.
“menulis.” Jawabnya singkat.
“ah... sì, sì” angguk Chris berpura-pura mengerti. Ia bingung hal apa yang
enak untuk dibicarakan. Baru pertama kali Chris merasa gugup berada
didekat seorang wanita, biasanya wanita lah yang mengejarnya. Contohnya,
Bianca.
“apa kedai Gelato & Caffè ini milikmu?” Chris senang sekali! Akhirnya wanita itu mau bertanya. Perlahan suasana kaku pun mulai mencair.
“No, ini bukan milikku. Kedai ini kepunyaan Nonna,
namun semenjak Ia meninggal, aku sebagai cucu yang tinggal bersamanya
dari kecil yang melanjutkan usaha ini.” ujar Chris diakhiri dengan
segurat senyum yang dipaksakan.
“Jadi kau dan orangtuamu yang mengurus ya?” tanya wanita itu lagi.
Chris
sejenak membisu, lalu berkata. “Orangtuaku sudah meninggal, mereka
ditembak oleh orang tak dikenal ketika kami sedang menikmati gelato di sebuah kedai di Venezia. Nonna bilang pembunuhnya adalah saingan bisnis papaku.”
“mi dispiace tanto.” Ucapnya penuh nada penyeselan.
“tidak apa, itu sebabnya aku membenci gelato. Meski meneruskan usaha nenek ku, tetapi aku tidak pernah lagi mencoba gelato sejak kejadian tersebut.” Jelas
Chris. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia tidak suka terlalu terbuka
kepada orang lain, namun, ketika duduk bersama wanita di depannya itu,
Ia merasa tenang. Setiap kata mengalir begitu saja dari mulutnya.
Wanita itu menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia menghabiskan sisa Espresso Con Panna dan Gelato Dark Chocolate-nya
dengan cepat kemudian berdiri sambil menggandeng tas. “Ini adalah pagi
terbaik selama hidupku. Terimakasih. Kau telah memberiku banyak
inspirasi.”
Wanita itu menaruh
uang di meja lalu mengulurkan kertas persegi panjang dengan latar kosong
warna merah pada Chris. “ini hadiah untukmu. Aku harap kau tidak
mengatakannya pada siapa pun. Jangan di balik sebelum aku keluar dari
kedai ini. Arrivederci.” Katanya lalu tersenyum.
***
Chris
benar-benar terkejut bukan kepalang. Wanita yang kemarin pagi datang ke
kedainya ternyata adalah Rosaria Cianni. Ya, Chris mengetahuinya dari
kartu nama yang diberikan Rosaria secara langsung kemarin hari. Namun
seperti dugaan Chris, pada kartu itu juga hanya terdapat nama dan
pekerjaannya, yaitu penulis. Chris sungguh menyesali kebodohannya. Dia
seharusnya tidak mengikuti perkataan Rosaria untuk tidak membalik kartu
tersebut sebelum dirinya keluar dari pintu kedai Gelato & Caffè. Andai Ia dapat memutar kembali waktu, Chris rela memberikan apapun demi untuk bertemu lagi dengan Rosaria.
Satu
fakta tentang kemarin adalah, sebenarnya Chris tidak sengaja membuka
kedainya pada pagi hari. Itu hal yang jarang sekali, atau bahkan tidak
pernah Ia lakukan. Tetapi, karena semalaman Ia tidak bisa tidur dan
paginya Ia tidak merasa mengantuk, akhirnya Ia memutuskan untuk membuka
kedai dari jam 7 pagi. Mulanya Ia berasumsi bahwa pasti tidak akan ada
yang berkunjung, namun Bianca adalah buktinya. Chris tidak tau menahu
dari mana Bianca bisa mengetahui kedai miliknya sudah buka pukul 7, tapi
yang pasti yang paling membuatnya sangat gembira yaitu kehadiran
Rosaria. Ia tidak menyangka kemarin akan mendapat tamu seistimewa itu.
Jika tau, mungkin Chris akan bersiap-siap selama 2 jam lebih untuk
menyambut wanita yang dikaguminya tersebut.
Sekarang
tepat jam 12 siang, kedai semakin ramai dan Chris sedikit kewalahan
mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Sampai Bianca datang dan
menawarkan bantuan. Awalnya Chris enggan, mengingat kejadian kemarin, Ia
malu dan jengkel sekali. Namun apa daya Ia tak sanggup menolak, ya,
karena kenyataan juga yang mendesaknya.
Bianca membawa
pesanan para pelanggan dari satu meja ke meja lainnya dengan suka cita.
Ia menebarkan senyumnya kepada setiap orang dan berkata begitu manis.
Chris mengawasinya dari counter,
hati kecilnya seperti tergelitik. Perasaan aneh yang membuat Ia tertawa
dan tersenyum ini selalu datang ketika Ia memusatkan penuh perhatiannya
pada Bianca. Segera mungkin Chris menghapus pikiran itu. Ia pasti
bergurau karena merindukan Rosaria Cianni, wanita yang memberinya
inspirasi serta mampu membuatnya merasa tenang.
“Chris, ada apa?”
tanpa Chris sadari rupanya Bianca kini tengah berdiri di hadapannya.
Wanita berambut coklat gelap dan bermata hijau itu menyuguhkan Espresso Macchiato dalam demitasse cup kepada Chris. “minumlah.” Katanya.
Chris meraih daun telinga cangkir itu, menyesap Espresso Macchiato dengan gaya yang khas. Entahlah seperti apa, tapi itulah yang paling disukai Bianca darinya. “delizioso.” Gumamnya pelan, sangat pelan. Chris tidak mau Bianca melompat dan memeluknya karena pujian yang Ia lontarkan.
Chris menunjuk ke
arah tempat duduk paling pojok. “di sana, sepertinya baru saja ada
pelanggan yang datang, tolong layani mereka.” Tuturnya.
Bianca membuat tanda
hormat dan tersenyum memperlihatkan deretan baris giginya yang rapih
dan putih. “Oke, bos!” terkadang, hanya terkadang... Chris merasa
dirinya sedikit kelewatan kepada Bianca, padahal wanita itu sering
membantunya di kedai. Ia orang yang cukup baik. Tidak. Sangat baik
mungkin. Meskipun Chris sudah berulang kali memarahi dan mengusirnya,
tetapi Ia tetap tidak mundur selangkah pun untuk berada di dalam hidup
pria itu. Bianca tidak berniat sedikit pun untuk meninggalkan Chris.
Tidak pernah, walaupun harus bersaing dengan Rosaria Cianni, Ia tidak
takut.
***
Satu hari, dua hari,
tiga hari, seminggu, sebulan terlewati. Chris menunggu dan menunggu
namun Rosaria tak kunjung datang ke kedainya lagi sejak saat itu. Chris
mulai kehilangan harapan. Ia mulai berfikir, tidak mungkin Rosaria punya
cukup waktu luang hanya untuk memakan gelato dan
bercerita bersamanya di kedai. Rosaria pasti sibuk mempersiapkan novel
terbarunya. Chris ingat betul ketika wanita itu datang, Ia berkata Ia
sedang menulis. Artinya, cepat atau lambat Rosaria akan segera
mengeluarkan karya selanjutnya.
Hari ini adalah tanggal 24 Desember. Bertepatan dengan momen indah 1 bulan yang lalu ketika Rosaria muncul dan memesan Espresso Con Panna serta Gelato Dark Chocolate,
momen di mana Chris merasa begitu tenang. Utuh. Dan tak terasa pula
Hari Natal akan segera datang. Hari Natal yang mungkin sama seperti
tahun lalu, tidak ada yang spesial. Chris hanya akan sibuk bekerja dalam
kesendirian di tengah kerumunan orang-orang yang menikmati hari
natalnya bersama keluarga, teman, atau kekasih mereka.
“Chris... kau ada
acara untuk malam natal?” Bianca tampak sedang bersih-bersih,
menyemprotkan semacam cairan kimia pada permukaan meja.
Hari ini kedai tutup
lebih cepat, orang-orang terlihat begitu sibuk. Terutama keuskupan,
mereka sibuk untuk menyiapkan Misa Natal. Chris bukanlah seorang
Katolik, Ia mengikut Papanya yang berasal dari Amerika dan seorang
Karismatik. Ia tidak tau akan melakukan apa pada perayaan natal tahun
ini. Kebingungan selalu menyeruak ke dalam pikirannya ketika perayaan
Natal sudah dekat.
“aku tidak kemana-mana.” Ucap Chris ketus.
Air mukanya sungguh
tidak menarik. Bianca yang tadinya ingin mengajak pria itu jalan-jalan
akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tidak berani mengganggu Chris jika
wajahnya sudah menampakan aura negatif seperti itu. Setelah selesai
membersihkan meja Bianca segera pamit kepada Chris. Dan disaat inilah
Chris benar-benar sendiri. Kesepiaan.
Alih-alih
menghilangkan rasa sunyi, Chris tergerak membuka kembali kedainya. Pukul
22.00. Ia tau tidak akan ada orang yang datang, semua sibuk dengan
acaranya masing-masing. Chris berjalan ke arah pohon natal yang masih
bersih tanpa ornamen. Melihat pohon natal Ia jadi teringat akan orangtua
dan neneknya. Chris biasa menghias pohon natal bersama mereka, namun,
sekarang keadaan berbalik. Semua sudah berbeda. 15 tahun Ia merayakan
natal tanpa orangtuanya, dan 5 tahun tanpa nenek yang sangat Ia sayangi.
Chris mengambil ornamen berbentuk rumbai yang panjang berwarna merah
dan emas lalu melingkarkannya di sekeliling pohon natal, ditambah
bola-bola mengkilat warna perak-biru, cupid yang sedang memanah,
malaikat-malaikat bersayap, serta tak ketinggalan figura santa claus dan tongkatnya, dan masih banyak ornamen lainnya.
Tiba-tiba bel pintu kedai Chris berbunyi. “seseorang datang?” benaknya.
Chris membelokan tubuhnya. Ia melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahun yang memakai kaca mata berdiri di dekat counter. “buonasera signore, ada yang bisa aku bantu?”
“ah yes, Americano please.” Ujar pria berjanggut tipis itu. “you can speak English Sir ?” tanya Chris sembari membuat pesanan. “of course, I’m an English man, you know!” Pria itu merapatkan jaket kulitnya yang tebal dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “here, hope it helps.” Ucap Chris menyuguhkan kopi pesanan pria itu.
“why are you working? It’s Christmas eve, you’re so weird!”
Chris menahan emosinya. Ia tidak mau merusak malam natal yang damai
ini. Ia lebih memilih diam daripada harus beradu mulut dengan pria
asing.
“I’m just kidding. By the way, you make good coffee kid.” Chris malas. Sungguh malas. Ia tidak tahan dengan pria itu. Ia ingin menutup kedainya segera dan pergi ke tempat tidur.
“Rosaria wants to meet you.” Chris menjatuhkan cangkir yang sedang dibersihkannya. Ia terkejut. Ia menghampiri pria itu.
“what did you say?” Chris mengepalkan kedua telapak tangannya. Seketika tubuhnya gemetar mendengar nama perempuan itu.
Pria berkacamata tersebut menghela nafas panjang. “Rosaria wants to meet you. Rosaria Cianni. I’m her editor. She asked me to come to your place to tell you that.”
Chris mencoba menanggapi dengan enteng. Ia tidak mau percaya begitu saja. “Stop joking around Sir. You should go, I want to close this shop. Here’s your bill.”
Pria itu menaruh uang di atas meja. “It’s up to you whether you want to come or not. I’m just doing what She asked me to do. The choice is yours.” Lalu Ia mengeluarkan secarik surat, meletakannya di dekat bill dan meninggalkan kedai Chris.
Chris menggapai
kertas note tersebut. Ia membacanya dengan perlahan. Perlahan- sampai
air mata mengalir di pipinya tanpa Ia sadari.
***
Minggu, 25 Desember pukul 07.00
Chris mencoba
menghubungi Bianca berulang kali namun ponselnya tetap tidak aktif. Ia
ingin Bianca menemaninya untuk menemui Rosaria. Ia tak akan sanggup
melihat wanita itu terkulai di kasur seorang diri. Chris gelisah. Ia
berjalan bolak-balik sambil menggenggam surat dari Rosaria yang
diberikan pria itu kemarin malam. Ia tidak pernah tau bahwa keadaannya
akan seburuk ini. Ia sungguh merindukan Rosaria Cianni! Chris membaca
ulang surat dari Rosaria;
“Chris
Vicenzo, itu bukan namamu? Aku mengetahuinya dari internet, kau tidak
tau bahwa kau ini cukup terkenal sebagai penjual gelato tertampan? Itu
sebabnya aku tidak perlu repot-repot kembali ke kedaimu hanya untuk
menanyakan nama pemiliknya. Chris... aku telah membuat draft cerita
novelku yang berikutnya. Aku ingin kau bekerjasama dengan editorku Mr.
Benjamin (aku tau kau pasti sudah bertemu dengannya). Aku mohon
lanjutkan novelku ini Chris. Aku mengerti kau pasti akan menolaknya
karena alasan ‘tidak punya pengalaman dalam hal menulis’ tetapi aku
mohon kepadamu... cobalah, untukku. Dan saat kau selesai, berikan judul
novel ini ‘La Fedeltá’. Satu lagi yang kau perlu tau, aku rasa aku jatuh
cinta dengan salah satu penggemarku. Ia adalah yang saat ini sedang
membaca surat dariku. Merry Christmas and I hope God always be with
thee.”
“Hey Chris! Buka
pintunya!” Bianca! Chris bergegas membuka pintu kedai. Belum sempat Ia
berbicara Bianca langsung menarik pergelangan tangan Chris menuju
mobilnya.
“kita mau kemana?” tanya Chris heran.
“ke rumah sang
penulis yang sangat kau kagumi dan cintai.” Chris tak berkata apa pun.
Ia benar-benar bingung. Bagaimana bisa Bianca tau rumah Rosaria? Apa
mereka memiliki hubungan keluarga? Saudara misalnya?
“Chris, kau ingat
ketika dulu kita masih duduk di bangku kuliah? Bukankah aku yang
memperkenalkan padamu novel pertama karangan Rosaria Cianni yang
berjudul ‘Qualcuno’? dan
tanda tangan di halaman pertama novel tersebut bukanlah tanda tanganku,
tetapi itu adalah tandangan Rosaria. Ia memberikan novel pertamanya yang
bahkan belum terbit di toko manapun kepadaku sebagai hadiah
ulangtahunku. Ia adalah sepupuku.” Ungkap Bianca.
Chris shock.
Ia hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Jadi, apa kau juga
tau wanita yang datang waktu itu adalah Rosaria?” tangan Chris mengepal
kuat. Gemetaran. Ia sungguh marah.
“i- itu, aku...” Chris memotong perkataan Bianca. “tidak perlu dijelaskan.” Ujarnya geram.
Sepanjang perjalan
menuju rumah Rosaria tidak satu pun diantara mereka yang membuka
mulutnya. Chris menopang dagu memandang keluar kaca mobil dan Bianca
fokus menyetir. Bianca benar-benar merasa bersalah pada pria itu. Ia
tidak bermaksud untuk membohonginya. Alasan Ia melakukan hal itu, semua
karena ‘Cinta’. Ia tidak ingin kehilangan Chris Vicenzo. Tetapi Bianca
sadar, sepertinya cara Ia melindungi Chris dari wanita lain salah.
Bianca harap Chris akan mengerti suatu hari nanti. Dan kini, Bianca siap
untuk meninggalkan pria yang pernah Ia cintai.
“Paman Ben! Di mana Rosaria?!” tanya Bianca dengan intonasi tinggi begitu memasuki tempat tinggal sepupunya bersama Chris.
“Bianca, Chris, kalian telat. Orangtua Rosaria baru saja membawanya pergi.” Ucap Benjamin tak tega.
Chris jatuh bersimpuh. “kemana? Kemana Rosaria pergi?”
Ben menatap Chris nanar. Ia dapat melihat pemuda itu sangat mencintai Rosaria. “Amerika, mengobati penyakitnya.”
***
“Papa!” pekik seorang anak berumur 6 tahun. Ia lari menuju rangkulan papanya yang sedang beristirahat sambil menikmati gelato.
“Grazia!” Pria yang dipanggil papa itu meraih anak perempuan kesayangannya dan menggendongnya.
“Grazia, mama bilang jangan lari-lari seperti itu!” omel wanita itu kepada anaknya.
“tidak apa. Grazia, kau mau gelato?”
“per favore.” Angguk Grazia semangat.
Pria itu berjalan ke arah counter pembuatan gelato dan istrinya Rosalie mengikutinya dari belakang. “Chris, aku ingin bicara.” Ucap Rosalie sedikit gugup.
Meski sudah 6 tahun
bersama, tetapi Rosalie yakin Chris tidak benar-benar berada di
dunianya. Chris tidak pernah berbicara panjang lebar, dingin, dan selalu
menghindar dari Rosalie. Namun kepada Grazia Ia sangat lembut dan penuh
kasih sayang. Tidak, Rosalie tidak cemburu terhadap anaknya sendiri. Ia
hanya ingin mengakhiri semuanya. Tidak seharusnya Ia jatuh cinta dengan
penulis buku ‘La Fedeltá’ itu.
Chris membelai rambut Grazia. “ini sayang gelato-mu. Papa ingin bicara sebentar dengan mama. Kau di sini saja ya?” Grazia tersenyum dan mencium pipi Chris. “sì Papà.”
Lalu Chris menghampiri Rosalie yang sedang duduk di luar kedai. Menunggu.
“hal apa?” tanya Chris sekenannya.
“kita harus mengakhiri ini.” ujar Rosalie tertunduk tak berani menatap mata Chris.
Chris duduk di samping kiri Rosalie, memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku coat. “jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa mencegahnya.”
Rosalie mengalihkan
pandangannya ke arah kanan. Ia berusaha berbicara walaupun kini suaranya
terdengar serak seperti orang sedang menangis. “kenapa Chris? Kenapa
kau melakukan ini semua kalau kau tidak mencintaiku? Kau bahkan tidak
mau mencoba mempertahankan hubungan kita.”
Chris menghela
nafas, mengeluarkan gumpalan asap dingin dari mulutnya. “Salah. Kau
salah. Kau lah yang tidak mau mencoba mempertahankan. Untuk apa jika
hanya aku seorang yang mempertahankan hubungan kita?”
Chris memalingkan
tatapannya pada Rosalie. Ia mendekap wajah Rosalie dengan kedua telapak
tangannya yang besar dan hangat. Chris mendekatkan wajahnya ke arah
Rosalie, dan mencium bibir wanita itu dengan lembut.
“jangan berfikir aku
tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Rose. Tolong, bertahanlah
sedikit lebih lama lagi. Aku butuh waktu untuk melupakan Rosaria. Dan
aku juga membutuhkanmu serta Grazia untuk tetap berada di sisiku...
untuk memberiku kekuatan.” Rosalie tidak mampu menahan air matanya
terjun bebas. Ia memeluk Chris dan menangis di pundak suami yang sangat
Ia sayangi.
“aku akan melakukan yang terbaik Chris, aku akan selalu bersamamu.”
“kau melakukan hal
yang benar Chris.” Ucap seseorang. Chris seketika melepas dekapannya. Ia
tercengang melihat sosok wanita yang sedang berdiri disebrang jalan.
Wanita itu seperti... Rosaria! Perlahan Ia mulai melangkah mendekati
Chris dan Rosalie. Sampai akhirnya Chris dapat melihat dengan jelas.
“Rosaria?” katanya terheran. Kedua mata Chris tak berkedip dan terus memandangi Rosaria yang sesekali tersenyum.
“Rosaria?” Rosalie
kebingungan. Apa maksud Chris wanita yang berdiri di hadapan mereka
berdua saat ini adalah wanita yang sangat dicintai suaminya itu?
“kau tidak perlu
khawatir, aku kembali ke Italia bukan untuk merebut Chris. Aku hanya
rindu akan kenanganku dulu bersamanya. Aku juga sudah menikah, sama
seperti kalian.” Rosaria menjelaskan pada Rosalie dengan santai. Ia
tidak ingin istri Chris salah paham terhadapnya. Ia memang mencintai
Chris, namun, itu dulu.
Tiba-tiba Rosalie berdiri dan memeluk Rosaria. “aku akan menjaganya Rosaria. Aku akan membuatnya bahagia.”
Rosaria mengendurkan
rangkulan Rosalie, sedangkan Chris memperhatikan perbincangan kedua
wanita itu. “ya, aku yakin kau pasti bisa.” Rosaria tersenyum, memberi
suntikan semangat untuk Rosalie.
***
Rosalie yakin
sepenuhnya dengan Rosaria maupun Chris. Yang dibutuhkan Chris saat ini
adalah Rosaria seorang, Chris ingin semua kejadian di masa lalu menjadi
jelas. Dan Rosalie mengijinkan itu. Chris meminta izin kepada Rosalie
untuk berbicara empat mata dengan Rosaria. Rosalie pun masuk ke dalam
kedai dan menemani anaknya yang sedang menikmati gelato. Meskipun dengan
sedikit rasa cemas di hati... cemas akan perasaan Chris yang takutnya
justru akan semakin kuat kepada Rosaria setelah Ia kembali ke Italia,
dan cemas akan Rosaria yang mungkin masih mempunyai rasa terhadap Chris.
“mengapa pergi tanpa
menungguku?” tanya Chris sambil menatap Rosaria dengan teliti. Wanita
itu tidak berubah sedikitpun. Masih dengan gaya rambut yang sama, dan
cantik seperti dulu.
Rosaria tertawa
kecil. “kau masih saja menanyakan hal itu! Aku kembali untuk bertemu
denganmu dan menikmati gelato buatanmu yang lezat Chris.”
“jawablah... karena
hanya jawabanmu yang bisa menenangkan hatiku dan juga sekaligus
melepaskanmu, menerima Rosalie sepenuhnya.” Ucap Chris datar. Nadanya
begitu serius dan tegas.
“karena jika aku
bertemu denganmu sebelum pergi ke Amerika, mungkin aku tidak akan mau
meninggalkan tempat ini. Aku ingin sembuh Chris. Aku sangat
berterimakasih kau telah meneruskan novelku. Tetapi setelah aku
memikirkannya berulang kali, aku tidak ingin itu menjadi karya
terakhirku. Walau harus menyakitimu dengan kepergianku, aku ingin terus
menulis. Aku ingin kau tetap membaca novelku, dan memahami perasaanku
yang sebenarnya.” Rosaria mengeluarkan sebuah buku dengan cover berwarna
biru berjudul ‘La Fedeltá 2’
dan mengulurkannya kepada Chris. “ini adalah novelku yang akan terbit
besok. Cerita ini adalah kelanjutan dari novel yang dulu aku dan engkau
buat. Ini juga adalah ungkapan perasaanku kepadamu. Bacalah dan kau akan
mengerti Chris.” Jelas Rosaria lalu tersenyum dan beranjak dari sana.
Chris membiarkan Rosaria pergi. Ia hanya ingin sendiri... dan membaca buku itu.
“...aku
berharap tidak akan bangun dari mimpi ini, aku ingin tetap memejamkan
mataku dan memeluk kehadiranmu untuk diriku seorang. Namun, aku pikir
aku terlalu serakah. Aku tidak seharusnya seperti ini, tetapi hatiku
sangat menginginkanmu. Maafkan aku... Kau tidak pantas jatuh cinta
padaku, aku hanya wanita berdarah dingin yang tamak akan hal bernama
‘cinta.’ Kesetiaanku telah membuatku buta selama ini... Rasa cintaku
telah membelenggumu dalam dimensi lain hingga kau tak mampu merasakan
bahwa ada wanita lain yang ditakdirkan untuk bersama denganmu. Aku akan
melepaskanmu... Aku akan membiarkanmu membentangkan sayap indahmu,
terbang bebas, dan menghirup aroma kehidupan yang sesungguhnya... yang tak pernah dapat ku berikan kepadamu.”
THE END
Teken in op:
Plasings (Atom)